MENCINTAI HINGGA TERLUKA (Yoh. 3: 16)


MENCINTAI HINGGA TERLUKA (Yoh. 3: 16)
Pada sebuah kesempatan, saya pernah melayani pemuda-pemudi. Ketika masuk dalam sesi sharing, ada seorang pemuda bercerita bahwasannya ia sangat merindukan cinta dari seorang ibu. Ia bercerita bahwa ibunya sudah lama meninggalkan mereka. Ia sungguh ingin mengetahui di mana ibunya sekarang berada. Pada kesempatan itu ia berkata, “kak, mohon doakan ibu saya, jika memang ia masih hidup, saya ingin bertemu dengannya, namun jika ia sudah mati, saya ingin sekali melihat jenazahnya!” hal ini membuat saya sadar bahwa sebenarnya manusia itu membutuhkan cinta. Bukan hanya itu, ada juga seorang ibu yang saya layani bercerita jika ia dulu muslim namun ditinggal nikah oleh suaminya, sebab suaminya pergi bersama wanita lain yang adalah mahasiswi yang kerja praktik di tempat mereka. Akibatnya, ibu tersebut mencari kedamaian dan kebahagian dalam hidupnya, ia pun pindah ke agama Kristen. Sesaat ia pindah ke agama Kristen, ia bertemu dengan lelaki yang sungguh-sungguh mencintainya. Setelah hal ini terjadi, ia pun berbahagia. Dari kejadian ini juga saya semakin diteguhkan jika cinta memang dibutuhkan oleh semua manusia. Jika kita perhatikan di dalam kehidupan ini, pada dasarnya kita dapat ada di dunia ini atas dasar cinta kedua orang tua. Maka tidak salah jika cinta memang merupakan hal yang sangat penting di dalam hidup. Hal ini terbukti di mana setiap orang membutuhkan cinta, meski terkadang manusia itu menolak dan mengatakan, “saya tidak membutuhkan cinta.” 
Itu semua adalah cinta antar manusia, bagaimana akan Allah? Apakah Ia mengasihi manusia yang ia ciptakan? Jawabannya: Allah pasti mengasihi manusia. Mengapa? Karena manusia juga memiliki kasih! Tak mungkin yang diciptakan memiliki kasih sementara yang Menciptakan tidak memiliki kasih!
Hari ini kita mau membahas apa kata Firman Tuhan tentang kasih Allah! Tema kita di hari ini adalah “Mencintai Hingga Terluka.” Adapun Firman Tuhan yang akan kita renungkan tertulis dari Yohanes 3:16. Dari nats ini ada 3 point penting yang mau kita renungkan, yaitu:

1.      Allah mengasihi dunia ini
Pada kalimat pertama dikatakan, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini,” dari kalimat ini kita memperoleh informasi jika Allah mengasihi dunia ini. Kasih yang bagaimana yang dimaksud? Ada pun kata "kasih" yang dipakai adalah ἠγάπησεν, kata ini jika diidentifikasikan adalah aorist, aktif, indikatif yaitu single action in the past. Artinya, Allah mengasihi dunia ini sejak dahulu, sekali untuk selama-lamanya. Dengan demikian, Allah sudah mengasihi dunia sejak dunia ini ada dari dahulu sampai selama-lamanya. Jika Allah mengasihi dunia, berapa besarkah kasih-Nya? Dalam terjemahan Indonesia dipakai kata, “begitu besar.” Dari frasa ini, kita dapat mengetahui jika kasih itu “tidak terbatas!” disebutkan kata, “besar” dan “begitu.” Ini permainan kata untuk menunjukkan bahwa kasih Allah itu tidak terukur! Sebagai contoh jika si “A” dikatakan cantik seperti Luna Maya, berarti kecantikan si “A” hanya sebatas kecantikan Luna Maya. Jadi, jika ada yang lebih cantik dari Luna Maya, maka “A” masih dapat dikatakan kurang cantik! namun jika dikatakan, “betapa cantiknya kamu, hai si “A.” Ini menandakan jika kecantikannya tidak terkira dan tidak dapat diukur. Dalam artian, sangat cantik.
Jadi melalui hal ini, sangat jelas jika Allah menyatakan melalui Firman-Nya jika Ia sangat mengasihi dunia ini.

2.      Bukti Kasih Allah
Ketika seseorang menyatakan kepada kita bahwa ia mengasihi kita, pasti kita akan berkata, “mana buktinya??” Hal ini hampir sama dengan seseorang laki-laki yang menyatakan cinta kepada seorang wanita. Dalam banyak kasus, pasti wanita itu berkata, “mana buktinya jika engkau mencintaiku?” Dari hal ini kita tahu jika kasih tidak sekedar diucapkan! Tapi butuh bukti.
Lantas, apa buktinya jika Allah mengasihi kita? Apakah Allah berdusta? Adakah buktinya? Hal ini terjawab di kalimat selanjutnya, “sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal!” Jadi, bukti kasih Allah akan dunia ini adalah Ia mengarunikan Anak-Nya yang tunggal. Mengapa Allah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal? Untuk apa? Jawabannya hanya satu, yaitu untuk menyelamatkan dunia! Mengapa? Karena dunia tidak bisa diselamatkan dari kehancuran dan murka Allah. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan dunia adalah Anak tunggal Allah.
Mengapa Allah murka terhadap dunia? karena dunia dan segala isinya bahkan juga manusia, telah memberontak kepada Allah dan telah berdosa kepada Allah! Maka dunia harus dihukum dan dibinasakan. Jika kita lihat, di awal penciptaan, Allah menciptakan dunia dan segala isinya, “sangat baik.” Namun manusia pertama telah merusaknya melalui dosa yang ia perbuat yaitu ketidaktaatannya kepada Allah. Maka Allah menghukum manusia itu dan seluruh alam terkena dampaknya. Upah dari pemberontakan dan ketidaktaatan itu sendiri adalah maut atau kematiaan kekal (Rom. 6:23) bahkan kemuliaan Allah pun hilang dari manusia tersebut (Rom.3:23).
Setiap orang yang melanggar harus dihukum, ini adalah hukum Allah, maka Allah menghukum manusia dan dunia. Allah melakukannya untuk menunjukkan kebenaran dan keadilan-Nya. Akan tetapi dibalik keadilan itu, Allah mengasihi dunia ini. Ia tidak dapat membohongi diri-Nya jika Ia sangat dan sangat mengasihi manusia itu. Oleh karena hal ini, Allah berinisiatif untuk menyelamatkan manusia melalui Anak-Nya yang tunggal yaitu Yesus, sebagai tebusan bagi manusia. Mengapa? Alasannya adalah untuk melakukan pendamaian, dan dalam melakukan pendamaian itu darah harus tertumpah! Mengapa? karena upahnya dosa adalah  maut. Oleh karena itulah Yesus mati di salib, darahnya tertumpah untuk mendamaikan manusia dengan Allah dan dunia dengan Allah! Yesus, Anak Tunggal Allah itu menjadi korban untuk penebusan manusia. Mengapa? Karena manusia yang berdosa adalah budak dosa dan budak tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Budak dapat selamat jika ditebus. Inilah alasannya, Allah mengaruniakan Anak-Nya itu untuk dunia.
Lantas mengapa harus Yesus? Karena hanya Yesuslah korban yang sempurna, yang tak bercacat dan yang tak berdosa. Yesus rela datang ke dunia meninggalkan Bapa-Nya dan Sorga, lahir menjadi manusia bahkan kelahiran-Nya pun di kandang domba hanya untuk menyelamatkan manusia dan memulihkan hubungan manusia dengan Allah.
Jika kita lihat juga bahasa asli untuk kata “Anak-Nya yang tunggal” adalah υἱὸν τὸν μονογενῆ artinya anak satu-satunya. Bayangkan saudara-saudara, satu-satunya yang Ia miliki, Ia korbankan untuk kita, yang paling berharga, ia berikan untuk kita. Saat saya merenungkan ini, hati saya sangat terpukul. Saya semakin menyadari betapa besar kasih-Nya kepada saya.
Pada suatu kesempatan, saya pernah mengkonseling ibu-ibu. Saya bertanya kepadanya, “apakah anda memiliki musuh?” ia berkata, “ya saya punya, dia adalah tetangga saya, ia sangat iri dengan saya, saya kesal dan bermusuhan dengan dia.” Selanjutnya, saya bertanya, “ibu punya berapa anak?” ia menjawab, “lima orang.” Saya kembali bertanya, “apakah ibu ingin berdamai dengan tetangga ibu?” ia berkata, “pasti susah!” Lantas saya melanjutkan perkataan saya kembali, “jika ibu bilang susah, sekiranya ada jalan untuk memulihkan hubungan kalian yaitu dengan mengorbankan salah satu anak ibu, disembelih untuk memulihkan hubungan tersebut, apakah ibu mau?” serta merta ibu itu menjawab dengan nada naik, “akh, untuk apa? Lebih baik bermusuhan terus! anakku itu berharga bagiku! Dia bukan siapa-siapa saya, masakan saya berikan anak saya untuk dia! Disembelih lagi!” Maka saya menjawab, “Allah sudah melakukannya. Ia mengorbankan anak satu-satunya untuk saya, ibu dan semua manusia. Ingatlah loh bu, anak satu-satunya! Ibu punya lima anak namun ibu tidak mau dan tidak akan memberikannya sebagai kurban. Sementara Allah, Anak satu-satunya Ia berikan.” Inilah bukti bahwa Allah sangat mengasihi kita orang berdosa. Ia korbankan Anak-Nya untuk menebus dosa kita. Jadi jika ibu sudah diampuni dan ditebus oleh Allah, mengapa ibu tidak dapat mengampuni? Kembalilah ibu dan berdamailah dengan tetanggamu!”  
Dari hal ini, saya semakin sadar jika Allah memang sangat mengasihi dunia ini. Bukan hanya itu, kasih-Nya juga terbukti, yaitu dengan mengorbankan sesuatu yang sangat berharga yaitu Anak-Nya yang tunggal.

3.      Dampak Kasih Allah
Firman Tuhan dengan jelas menjelaskan bahwa dampak dari kasih Allah itu adalah, “supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya, TIDAK BINASA melainkan BEROLEH HIDUP YANG KEKAL.” Artinya, ketika mempercayai Allah dan kasih-Nya itu dalam Yesus, maka tidak ada kebinasaan dan kematian kekal, namun yang ada adalah hidup yang kekal. Jadi jelas, kehidupan yang kekal “ada” dan “pasti ada”. Mengapa? Karena Allah yang menjaminnya.
Satu hal juga yang perlu kita ingat bahwa hidup kekal, adalah hal yang dari dahulu kala dicari-cari oleh manusia, dan sampai sekarang belum ditemukan. Akan tetapi, Allah menyatakan dalam Firman-Nya jika hidup kekal ada pada-Nya, yaitu ketika percaya pada kasih-Nya dalam Kristus Yesus. Ketika saya merenungkan hal ini, saya semakin sadar jika Allah itulah jawaban hidup saya. Yesus adalah jawaban dari ketakutan saya selama ini, ketakutan akan hidup, akan tidak ada yang mengasihi bahkan ketakutan akan maut. Semua ketakutan itu dijawab oleh Allah melalui Yesus, Sang Juruselamat.
Jadi saudara-saudara ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari Firman Tuhan:
1.      Ingatlah bahwa Allah sangat mengasihimu. Siapapun kamu, betapa hancur pun hidupmu, Allah sangat mengasihimu. Jika di dunia, kamu dikecewakan, disepelekan dan tidak ada yang mengasihimu. Ingatlah Allah yang sangat mengasihimu! Dia tidak peduli dengan masa lalumu, yang Ia butuhkan hanyalah pertobatanmu. Kembalilah pada-Nya, akuilah dosamu dan percayalah kepada Allah dan kepada Yesus yang telah datang ke dunia hanya untuk menebus dosamu dan nyawamu dari maut.
2.      Tidak ada yang dapat menyelamatkanmu dari dosamu, baik itu perbuatan baikmu, kesalehanmu, amal ibadahmu dan lain-lainnya. Manusia dapat diselamatkan hanya karena anugerah Allah dalam Kristus Yesus (Ef. 2:8-9). Jika memang benar, ada hal lain yang bisa menyelamatkan manusia di luar pengorbanan Yesus. Betapa bodohnya Tuhan Yesus datang ke dunia ini. Ia rela meninggalkan Bapa-Nya dan Surga, ia rela meninggalkan kemuliaan-Nya, datang ke dunia, lahir di kandang domba, hidup sederhana dan mati terhina di kayu salib, hanya untuk kita orang berdosa. Hal ini merupakan peristiwa yang sangat menyakitkan dan memalukan. Namun dibalik itu semua, Ia rela menanggung semua kehinaan itu hanya untuk kita. Mungkin dari setiap pembaca, saya yakin tidak ada satu pun yang terlahir di kandang domba, akan tetapi Anak Allah, lahir di tempat terhina itu. Saya juga yakin diantara kita, tidak ada yang mau mati demi musuhnya. Akan tetapi, Anak Allah telah mati untuk seteru Allah. Mengapa hal ini Ia lakukan? Tentu, semua itu Ia lakukan karena cinta-Nya. Ia mencintai kita hingga terluka, Ia korbankan semua hanya untuk kita yang hina dina ini. Mengapa? Karena tidak ada cara lain yang dapat menyelamatkan manusia berdosa. Hanya Yesus yang bisa menyelesaikan semua itu. Kekayaan, jabatan dan lain-lain tidak akan bisa memuaskanmu dan menyelamatkan hidupmu.
Oleh karena itu, saudara-saudara terimalah pengorbanan-Nya. Jangan sia-siakan pengorbanan-Nya yang begitu besar. Jangan tolak cinta-Nya yang telah mencintai kita hingga terluka. Terimalah Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatmu supaya kamu selamat sebab, hanya Dialah jawaban hidupmu dan hanya Dialah yang sungguh-sungguh mencintaimu. Terpujilah Tuhan untuk Firman-Nya. Amen.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

THE GOSPEL OF CHRIST, THE GOSPEL OF THE TRUTH (GALATIANS 1:8-9)

FREEDOM IN THE SPIRIT (Romans 8: 1-4)

PANGGILAN SORGAWI DARI ALLAH DALAM KRISTUS YESUS (Filipi 3:1-16)